Gagal Maning, Gagal Maning

Beberapa post yang lalu, saya mengabarkan bahwa sedang seleksi. Hari ini, hasil seleksinya keluar. Rasanya deg-deg-an ketika dikabarkan hasilnya sudah diumumkan di OA LINE. Lekas saya klik OA-nya lalu cari nama yang dimulai dengan “Mas”. Namun hasilnya nihil. Hal ini menandakan bahwa saya tidak keterima :’D

Kecewa ada, tapi saya berusaha agar rasa tersebut tidak menenggelamkan diri ini ke dalam kesedihan. Setelah berkecewa ria sedikit, saya mulai merenung, baik merenungi diri maupun hal sekitar.

Mungkin kenapa saya tidak diterima, karena ada kemampuan diri yang kurang. Mungkin kenapa saya tidak diterima, karena tujuan saya yang belum sama. Mungkin kenapa saya tidak diterima, ya karena tempat tersebut bukanlah tempat saya.

Masih banyak spekulasi-spekulasi yang bisa saya paparkan, mulai dari yang berdasar hingga ngarang banget. Tapi toh apa gunanya, wong sudah ditolak hahaha.

Hal ini cukup dijadikan sebagai pembelajaran bahwa diri ini masih perlu dilatih, diasah, dan diuji. Selain itu, hal ini juga sebagai pertanda bahwa saya perlu mencari tempat baru lagi untuk mengembangkan diri. Semoga kedua hal di atas dapat terlaksana secepatnya aamiin.

Advertisements

Berdiri Lalu Tertawa

Stand Up Comedy. Saya berkenalan dengannya waktu kelas 1 SMP. Kala itu saya sedang bermain ke rumah teman, Dhandi namanya (semoga ia masih ingat dengan saya). Di rumahnya saya bermain game hingga akhirnya kelelahan dan memutuskan untuk berleha-leha. Saat sedang malas-malasan, teman saya membuka laptopnya sambil menunjukkan sebuah video.

Ia memperlihatkan saya sebuah video berisi seseorang yang berdiri sambil berbicara dalam bahasa Inggris. Pada awalnya saya tidak begitu mengerti apa yang dibicarakannya, mengingat minimnya cas cis cus Inggris saya, namun lambat laun saya mulai mengerti ia sedang melawak. Bagaimana saya tahu ? Karena teman saya tertawa dengan lepas. Melihat saya yang hanya sedikit tertawa, ia pun mengganti ke video lain.

“#StandUpNite2 – Raditya Dika (Part 1 of 2)”, itu lah judul videonya. Dari situ saya mulai tahu, video berbahasa Inggris sebelumnya adalah Stand Up dari luar negeri. Karena sekarang sudah berbahasa Indonesia, saya dapat mengikuti videonya dengan baik. Pada menit-menit awal saya belum tertawa, hanya tersenyum. Tapi makin lama, saya pun akhirnya tertawa bersama dengan teman saya. “Wah lucu gila, seru nih kalau bisa”, dalam hati saya. Semenjak itu, saya mempunyai harapan suatu hari nanti dapat membawakan suatu Stand Up.

Harapan tersebut mulai tampak sedikit demi sedikit. Saya tiba-tiba menemukan buku panduan Stand Up dari comic luar. Saya menemukan berbagai video-video stand up dari berbagai komika. Saya juga pernah sekali mencoba di depan kelas, namun hasilnya tidak mengasyikkan bagi saya.

Suatu hari ketika SMP kelas 3, semua murid dikumpulkan dengan maksud membicarakan perpisahan. Di kumpul tersebut diminta dari setiap kelas menampilkan suatu pertunjukkan. Tiap kelas beda-beda, ada yang nunjukkin dance, ada yang main yo-yo, dan ada juga flash mob. Tinggal kelas saya yang belum, kami bingung mau nampilin apa. Entah dapat bisikan siapa dan dari mana, tiba-tiba guru koordinator perpisahannya nanya, “denger-denger Davino bisa stand up, mau tidak ngisi nanti?”. Di situ saya deg-degan. Saya bimbang antara mau ngasih ya atau tidak. Kalau jawab ya, saya takut nanti nge-bomb alias garing. Kalau jawab tidak, saya juga takut membuang suatu kesempatan emas.

Saya tadinya ingin mikir-mikir dulu, tapi ternyata guru ingin jawaban fast-resp, akhirnya saya pun mengiyakannya. Di situ perasaan saya campur aduk, antara senang dan gelisah. Senang karena mendapatkan kesempatan, gelisah takut tidak dapat tampil dengan baik. Agar hal itu tidak terjadi, saya pun mulai siap-siap.

Saya mulai nulis-nulis materi, membacakannya sendiri di kamar, dan terkadang nonton-nonton stand up orang. Namun dampak buruk dari nonton video orang, saya jadi malah pengen bawa materi mereka, sedangkan hal itu tidak boleh. Namanya juga pemula, hal tersebut malah luput. Alhasil, nantinya stand up saya merupakan campuran materi saya dan juga orang lain.

Setelah selesai menulis, sang guru ingin para penampilnya gladi resik. Itu berarti saya juga harus tampil. Untuk mengatasi grogi, saya mengajak seorang teman, Afif namanya (semoga ia juga ingat dengan saya) ke dalam sebuah kelas. Di kelas tersebut saya nembak dia, saya menjajal materi campuran itu dan menurutnya sudah lumayan. Entah lumayan bagus atau lumayan garing. Setelah penjajalan tersebut, saya tampil di gladi resik dan ditonton oleh lumayan banyak orang. Karena banyak yang nonton, otomatis saya perlu nambahin materi lagi supaya penampilan esok hari jadi surprise.

Keesokan harinya, berbekal materi campuran yang ditambah, kenekatan, dan kegrogian, saya naik ke atas panggung. Saya tampil di akhir rundown, jadi serasa spesial kayak nasi goreng :D. Dalam penampilan tersebut, saya ditonton oleh para siswa, orang tua, dan juga guru-guru. Materi demi materi saya layangkan, ada yang gak berhasil dan ada juga yang gak berhasil banget #lul. Beberapa kali juga saya mencoba untuk menciptakan tawa dari penonton, namun hasilnya kurang karena saya belum tahu ilmunya. Setelah materi terakhir disampaikan, tepuk tangan saya terima, bahkan ada yang sampai standing ovation, entah karena bagus atau bersyukur akhirnya saya turun juga, hehehe.

Setelah penampilan tersebut, perasaan malu dan senang timbul. Malu karena ada materi orang di dalamnya, senang karena Stand Up somehow menarik perhatian saya. Selepas SMP, saya masih suka dengan Stand Up ditandai ketika SMA pernah tampil beberapa kali.

Sampai saat ini saya masih menyukai Stand Up, bahkan saya mencoba untuk mendengar Stand Up yang berbahasa Inggris karena sebelumnya masih berkutat dengan komik Indonesia. Masih ada ingin untuk tampil dan mengembangkan kemampuan ini. Alasan mengapa masih ada ingin tampil, itu karena Stand Up bukan hanya hiburan semata. Stand Up juga dapat dijadikan suatu jalan menyuarakan pendapat ketika kita tidak dapat menyampaikan suara secara langsung.

Lagi Seleksi

Seminggu ke belakang, saya sedang dalam proses seleksi. Saya seleksi apa ? Well, saya seleksi untuk masuk UKM yang berfokus pada bahasa Inggris.

Ada tiga tahapan seleksi. Tahapan pertama ialah speech. Setiap peserta diberi 10 menit untuk persiapan dan nantinya akan membawakan speechnya selama 1 menit. Pada persiapan speech, saya sedikit bingung untuk memilih topik apa. Akhirnya saya putuskan untuk membawakan topik game. Alasannya, karena saya dekat dengan topik tersebut dengan harapan tidak membawakan speechnya dengan cara menghafal.

Tahap kedua makin asik, yaitu simulasi debat. Mengapa saya katakan asik ? Sebab saya belum pernah melakukan debat sebelumnya. Simulasi ini adalah suatu pengalaman yang menarik.

Dalam simulasi, saya setim dengan Anin dan Nia. Mereka berdua sudah terlebih dahulu menyelami lomba debat, berbeda dengan saya yang baru saja menyemplung ke dunia baru ini. Dikarenakan saya newbie, Anin menyarakan saya untuk menjadi first speaker. Selain menyarankan, ia juga membantu saya dalam mempersiapkan diri sebagai first speaker.

Sebuah corat-coret persiapan yang dibumbui rasa panik takut ga bisa, haha

Selesai bersiap, simulasi pun dimulai. Debat dimulai oleh saya sebagai first speaker from the government side. Saya menyampaikan barrier topik dan argumen pertama. Selesai itu, debat dilanjut hingga speaker terakhir.
Debat berakhir, mentor saya mengomentari debat saya. Menurutnya, apa yang saya sampaikan sudah bagus, hanya saja, belum begitu spesifik. Hal itu membuat ide saya belum mempunyai ‘daya jual’ yang kuat.

Besok tahap ketiga, tahap wawancara, akan diadakan. Saya harap dapat melewatinya dengan baik dan nantinya diterima di UKM ini. Selain berharap, saya juga bersiap diri agar misalnya tidak keterima, saya tidak tenggelam dalam rasa kecewa. Semoga saja besok berhasil, aamiin.

Tulisan Kosong

Pengen banget nulis, tapi mata udah minta merem dan otak tidak ingin diajak merajut kata lebih lama walau hanya untuk sebentar. Kalau udah lelah, biasanya hal yang di foto yang saya lihat. Ya. Melihat dinding langit dengan pikiran melayang entah kemana.

Seni dan Saya

Tangan saya, bukanlah tipe yang dapat membuat suatu karya seni rupa atau kerajinan tangan yang indah. Setiap kali ada tugas untuk membuat karya seni rupa atau kerajinan tangan, saya pasti mengerjakannya dengan lama dan hasilnya juga tidak seberapa. Entah karena memang tidak suka atau tidak bakat, seni rupa dan kerajinan tangan nampaknya bukan tempat saya berseni.

Lantas muncul suatu pertanyaan, saya bisanya seni apa ? Well, seni lukis saya bisa. Hal itu dikarenakan saat SD ada kelas melukis, namun kemampuan melukis saya pudar setelah SD, karena di SMP seingat saya tidak ada kegiatan melukis. Di SMA, ada tugas melukis ada di kelas 3, hal itu membuat saya harus sedikit latihan kembali. Hasilnya ? Bisa dikatakan lumayan untuk ukuran seseorang yang sudah lama tidak melukis.

Selain seni lukis, seni yang saya bisa dan lumayan mahir ialah seni musik. Sejak SD saya memang senang musik, dan mungkin karena itu, saya menjadi mudah untuk mempelajarinya. Alat musik pertama yang saya pelajari adalah pianika lalu yang kedua ialah seruling. Untuk kemampuan bermain pinaika saya pakai hingga kelas 6 SD sedangkan bermain seruling hanya sampai kelas 4 atau 5 SD.

Memasuki SMP, saya belajar alat musik baru yaitu gitar. Pada awal mengenal gitar, saya hanya bisa genjreng-genjreng tidak jelas karena memang tidak mengerti kunci-kuncinya, namun lambat laun saya mulai belajar dari dasar. Saya berguru gitar dengan banyak orang, mulai dari pemusik jalanan, guru gitar beneran, hingga teman saya yang les gitar. Lumayan dari berbagai sumber belajar tersebut, saya dapat menggunakan kemampuan bermain gitar untuk memudahkan saya dalam tugas-tugas seni musik di SMA. Selepas SMA, saya mulai berkurang dalam hal seni musik, dikarenakan waktu dan situasi yang tidak mendukung, so goodbye guitar :’

Seni musik berakhir, seni yang lain dimulai. Seni sastra menjadi tujuan perjalanan seni saya. Keinginan untuk menulis entah mengapa berkobar kembali setelah sekian lama padam (saat SD dan SMP pernah nulis blog soalnya). Ada keinginan, ada jalan. Namun jalan yang ditempuh juga pasti ada hambatannya. Salah satu hambatan terbesar bagi saya dalam menulis ialah konsistensi. Terkadang saya malas, terkadang saya takut isi tulisan tidak jelas (kemungkinan tulisan ini juga tidak jelas, haha), dan terkadang saya tidak menyempatkan waktu menulis.

Semoga saja seni yang sedang ditekuni ini dapat saya pelajari dengan baik dan kalau bisa dikuasai. Entah mengapa kalau tidak berseni, rasanya ada yang kurang. Ibarat kata, kita udah makan baso, soto, dan sop tapi belom makan nasi, ya itungannya belom makan hahaha.

 

Habis Nonton Film

“Aku tak bisa memilih masa kecilku, tapi masa depan itu, kita sendiri yang bisa menuliskannya”

Itu adalah kalimat terakhir dari film ‘9 Autumns 10 Summers’. Film tersebut menceritakan kisah Bayek, seorang lelaki asal Batu, Malang yang berusaha untuk menyukseskan hidupnya meskipun keadaannya dalam kekurangan. Namun karena kekurangan itu, ia malah menjadi makin terpacu untuk maju. Sebab ia tak ingin melarat. Ia ingin hidup yang lebih baik.

Perjuangan hidupnya untuk menggapai kemakmuran, tidak lekas dari pengorbanan orang-orang di sekitarnya. Para saudara perempuannya membantu dari kemampuannya masing-masing (ada yang jadi guru privat dan ada juga yang membantu dengan belajar giat). Kedua orang tuanya merelakan hartanya, ibunya menjual perhiasan dan bapaknya menjual angkotnya. Selain orang-orang sekitar, ia juga mencoba membantu dirinya sendiri dengan cara mencari pekerjaan sambilan dan pinjaman.

Pengorbanan orang-orang terdekatnya ia balas dengan berbagai cara. Mulai dari menuntaskan kuliahnya dengan baik hingga mengirimkan gajinya ke keluarga saat bekerja di Jakarta dan New York. Ia, tak lupa untuk balas jasa.

Melihat perjuangannya membuat saya malu, karena meskipun (alhamdulillah) diberi kecukupan, saya terkadang masih malas untuk berusaha dan bekerja keras. Tak hanya malu yang saya dapat, namun juga hal baru dari kisahnya. Dengan usaha, doa, dan tetap menjaga hubungan dengan orang-orang terdekat, jalan apapun pasti dapat dilalui.

 

Kelas Tadi Pagi dan Isinya

Kelas dimulai pukul 7 pagi, tapi sekitar jam 6.30 saya masih tiduran di kasur sambil liat-liat gambar lucu di HP. Panik udah mau jam 7, saya bergegas sarapan, mandi, lalu berangkat. Ternyata eh ternyata, jadwal kelas berganti jadi 7.30, ditandai dengan dosen yang datang sekita jam segitu dan dosen juga mengatakan hal demikian.

Karena hari ini adalah hari pertama benar-benar belajar dengan dosennya, maka kelas diawali dengan perkenalan dengan seluruh mahasiswa. Para mahasiswa diminta untuk memberi tahu asal, mengapa memilih jurusan ini, dan ke depannya ingin melakukan apa. Dari berbagai perkenalan tersebut, saya jadi tahu bahwa ada yang nantinya ingin kerja di media, ada yang ingin membuka usaha, dan ada juga yang ingin menjadi humas. Semoga apa yang mereka inginkan dapat tercapai.

Materi di pagi ini adalah Pengantar Ilmu Komunikasi, suatu materi dasar yang diperlukan seorang siswa komunikasi. Di kelas tadi, dijelaskan berbagai hal terkait komunikasi, mulai dari fungsi hingga hirarki kebutuhan. Di antara berbagai hal tersebut, ada satu hal yang langsung menempel di kepala. Hal itu ialah inti komunikasi. Mungkin karena inti itu pendek, saya jadi mudah mengingatnya haha. Meskipun pendek, tapi inti tersebut mempunyai makna yang kuat. Tidak hanya kuat bagi komunikasi, namun juga dalam kehidupan.

Sederhananya, inti dari komunikasi ialah “S & R”. “S” untuk stimulus dan “R” untuk respon. Memberi stimulus yang baik, akan mendapat respon yang baik, begitu juga sebaliknya. Contohnya, dengan guru mengajar dengan jelas, murid-muridnya dapat mencerna materi dengan lebih cepat (meskipun tidak selalu, karena saya sendiri terkadang lambat mencerna walaupun sudah dijelaskan, hehe).

Konsep inti komunikasi dapat kita aplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Jika ingin hasil yang baik, maka usahanya harus baik. Ingin mencapai target, maka harus ada langkah-langkah yang dilakukan. Intinya, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Tapi ingat, tidak semua usaha yang terbaik dapat menghasilkan sesuatu yang terbaik. Karena ada kalanya, kita lagi kurang beruntung atau memang bukan waktunya saja. Contoh nyatanya seperti belajar untuk ujian. Kita menganggap bahwa kita sudah belajar sungguh-sungguh sehingga beranggapan bahwa akan mendapat nilai bagus. Tapi pada saat pembagian nilai, eh yang didapat bukanlah nilai yang diinginkan.

Penutup, saya berharap bisa belajar lebih lagi tentang komunikasi. Tidak hanya intinya, namun juga seluk-beluknya. Semoga saja bisa, aamiin.