(Mungkin) Puisi #3

Mematikan hati

agar hati

tak tahu hati

.

Mengakali hati

agar hati

lebih banyak pikir

dibanding merasa

.

Menasehati hati

agar hati

hati-hati dengan hati

Advertisements

5 Hal yang Teringat Tentang Masa Kecil

Entah mengapa ingin menulis topik ini, jadi baca aja ya, hehe

1. Getaran Stik PS

Ketika kecil saya berkenalan dengan namanya PS 1. PS 1 kala itu ialah milik om saya lalu diberikan kepada saudara saya. Hal itu membuat saya selalu ingin ke saudara agar dapat bermain ps.

Selain menyenangkan, sensasi bermain ps ya itu tadi, getaran stik. Getaran yang ada seakan membuat saya seperti benar-benar ada di dalam gamenya, turut merasakan apa yang dirasakan oleh karakter permainan.

2. Bermain di Luar Dengan Adik

Kalau tidak salah waktu itu saya masih sd dan adik saya masih belum sekolah, sehingga kami mempunyai waktu luang bersama.

Karena kebosanan yang ada, saya mengajak adik bermain bola. Tapi bola ini bukan bola biasa, ini adalah bola plastik yang berisikan batu. Cara mainnya ya dilempar, siapa yang paling jauh, dia yang menang. Permainan ini tentu saja melelahkan, sebab yang dilempar bisa dikatakan ya bola batu dan badan kami masih begitu kecil kala itu.

Tapi satu hal yang pasti, kami mendapat kesenangan dari hal sederhana itu.

3. Bermain ke Rumah Om Badar

Om Badar ini tetangga saya yang sering dateng ke rumah untuk sekedar main atau ngobrol dengan ayah. Saya sendiri sering ke rumahnya sebab ada komputer (kala itu komputer masih hal yang jarang ditemui ya) dan karena tidak ada anak kecil lain di komplek. Biasanya saya bermain game dan mengerjakan tugas sekolah di komputernya. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui hehe.

4. Pergi Ke Game Center Bersama Kakek

Merupakan hal yang biasa saya lakukan ketika menginap ke rumah kakek. Saya meminta kakek untuk bermain ke game center, waktu itu Time Zone di salah satu mall di kota.

Kami berangkat dengan mobil dan setibanya di tempat, kakek membeli koin atau kartu bermainnya. Biasanya kakek akan menunggu sambil duduk di samping mesin permainannya. Ketika bermain saya juga terkadang bermain dengan orang dewasa, mungkin itualah penyebab saya lebih suka bercengkra ma dengan yang lebih tua. Mungkin, hihi.

Kami pun pulang ketika koinnya habis atau sayanya sudah lelah atau bosan.

5. Masa Naik Jemputan

Ketika SD, saya pulang diantar jemputan sebab rumah waktu itu jauh dan orang tua sedang sibuk bekerja. Naik jemputan kala itu menyenangkan karena bisa bermain dengan teman dan menjaili orang dari mobil jemputan haha~ (jokes sd waktu itu, biasanya teriak ke orang naik motor, “bannya muter”, terus kita sejemputan ketawa padahal itu adalah hal yang wajar.)

Karena saya rumahnya yang paling jauh, saya yang paling terakhir diantar dan yang paling sendirian. Kalau teman terakhir turun, saya langsung diam sembari melihat pemandangan perjalanan. Mungkin itu juga yang membuat saya lebih menyukai kesendirian dan perenungan. Mungkin.

Sekian tulisan nostalgia saya, mungkin ini juga membantu pembaca sekalian untuk mengingat kembali momen-momen menyentuh ketika kecil. Terima kasih~

Belajar Gulat dan Konsistensi Dari Dangal

Baru saja selesai menonton “Dangal”, sebuah film India produksi Amir Khan, yang menceritakan Mahavir Poghat yang melatih gulat kedua anak perempuannya yaitu Geeta dan Babita untuk membawakan medali emas ke pada negaranya.

Film ini menginspirasi bagi saya, baik dari segi jasmani maupun psikis. Bagaimana tidak menginspirasi saya dari segi jasmani, film ini menceritakan tentang gulat oi~ Bahkan judulnya sendiri, Dangal, apabila diterjemahkan (pakai google translate misalnya) artinya adalah “bergulat”. Menonton film ini membuat saya ingin berolahraga kembali sebab sudah hampir tiga bulan saya tidak berolahraga, utamanya lari. Selain itu, saya jadi ingin melakukan berbagai kegiatan fisik seperti push-up, sit-up, dan sejenisnya. Melihat kegiatan-kegiatan seperti itu di film ini membuat badan ingin langsung bergerak!111!!!

Selain segi jasmani, bagian psikis ikut tersemangatkan juga oleh film ini. Ada tiga hal yang saya resapi betul dari “Dangal”, yaitu konsistensi, disiplin, dan percaya diri. Geeta tak akan mampu untuk menjadi yang terbaik apabila latihannya tak konsisten. Ia harus bangun dan mulai berlatih pada pukul 5 pagi. Setiap hari, bertahun-tahun, hingga ia mendapatkan medali emasnya.

Disiplin merupakan hal yang penting ketika ingin mencapai sesuatu, entah itu di dunia olahraga maupun dunia sehari-hari. Tanpa kedisiplinan, bakat yang ada hanya akan menjadi sebuah bakat yang tak terlatih. Geeta dan Babita adalah anaknya Mahavir Poghat, seorang mantan pegulat, yang secara otomatis berarti kedua anaknya mempunyai bakat turunan bergulat. Meski begitu, ayahnya tetap disiplin melatih mereka karena tahu bahwa bakat hanya akan jadi sekedar bakat ketika tidak diasah. Hard work will beat talent, if talent doesn’t work hard (ini bukan kutipan dari filmnya ok….)

Pada pertandingan perdana Geeta, ia dipersilahkan untuk memilih lawannya. Saat itu ada empat orang anak laki-laki, mulai dari cungkring (kurus) hingga yang berotot. Ketika hendak memilih, Geeta diledek mending pilih yang kurus biar bisa menang, tapi siapa yang dia pilih ? Saya bukan anak yang kurus tapi yang benar-benar berotot. Sesaat sebelum pertandingan dimulai, ayah Geeta disarankan oleh panitia untuk menghentikan anaknya untuk bertanding agar Geeta tidak cedera. Alih-alih menghentikan, ayah Geeta bilang ke panitianya, “Sebelum bertanding, yang kau harus kalahkan ialah rasa takutmu”. Pertandingan dimulai, namun sayangnya Geeta harus kalah. Meski kekalahan ia telan, ia telah mampu mengalahkan hal terpenting, yaitu rasa takut. Ia telah belajar untuk percaya diri

Itu beberapa hal yang saya dapat dari menonton “Dangal”. Mungkin masih ada hal menarik lagi yang dapat dijadikan suatu insight. Maka dari itu, coba deh tonton filmnya !

Sesosok Alien

Berdiri di sana, “alien”

Berbeda dari yang lain

Otak dan perasaannya

Tak sama seperti yang lainnya

Dia terkadang bertanya-tanya,

“Aku yang berbeda

atau

mereka yang berbeda ?”

Dia terkadang bingung

Harus apa dan bagaimana

menghadapi perbedaan

yang kerap buatnya tak nyaman

Dia sekarang berhenti

pada dua buah pilihan

tetap menjadi “alien”

atau menjadi sama

Pilihan tersebut tentu sulit

Karena menjadi sama berarti mematikan diri

Karena tetap menjadi “alien” berarti menjauhkan diri

Dia, masih (bingung) memilih.

Lagu dan Kondisi Menjadi Satu

“Wish we could turn back time, to the good old days, when our momma sang us to sleep but now we’re stressed out”-Stressed Out, Twenty One Pilot

Entah mengapa kita selalu mengaitkan kondisi yang sedang dialami dengan sebuah lagu. Rasanya ada yang pas, terpuaskan, ketika lagu dan kondisi itu sama.

Seperti halnya saya, sekarang sedang mengulangi lagu yang dikutip di atas berulang kali. Padahal tadinya saya sudah bosan akannya. Tahu mengapa saya tiba-tiba menyukainya kembali ? Ya, saya berusaha menyamakan lagu dengan kondisi saya, tertekan oleh tumpukan tugas yang bermacam-macam T-T

Bukan bermaksud curhat, hanya saja ingin melepas sedikit kerisauan hati dan pikiran. Dengan menulis, entah mengapa mampu membuat diri ini kembali pada kondisinya yang baik. Selain itu, tulisan ini juga dimaksudkan untuk meramaikan kembali blog ini. Sudah lama saya tinggalkan, kalau dibayangkan, mungkin sudah seperti rumah yang berdebu.

Sekian pos (un-faedah) kali ini. Btw, lagunya memang enak, jadi coba dengerin deh sekali-kali hihi.