Aal Izz Well

Tadi pagi iseng scrolling 9gag. Saat nge-scroll ada sebuah post tentang film-film India yang bagus untuk ditonton. Di post tersebut film ‘3 Idiots’ termasuk di dalamnya. Saya tahu film tersebut, namun belum pernah menontonnya. Didorong akan rasa bosan dan penasaran, saya putuskan untuk menontonnya.

Awalnya saya kira film bobodoran belaka, tapi ternyata tidak. Film tersebut dipenuhi pesan-pesan bermakna yang membuat saya termenung. Hal itu karena film tersebut berisi akan realitas-realitas kehidupan.

1. Belajar untuk nilai atau nambah ilmu ?

Saya merasakan sendiri dilema itu saat sekolah, dimana ingin nilai bagus namun di sisi lain ingin juga ilmu bertambah. Jika ingin nilai maka belajarnya lebih fokus menghafal sehingga tidak paham apa gunanya ilmu itu. Sebaliknya, jika ingin menambah ilmu maka belajarnya harus benar-benar dipahami agar tidak salah menggunakan ilmunya.

Dilema tersebut akhirnya saya respon dengan menyeimbangkan keduanya. Jika ada pelajaran yang butuh nilai, maka saya menghafal. Jika ada pelajaran yang saya kira berguna untuk ke depannya, maka saya pahami baik-baik. Meskipun cara tersebut membuat hasil belajar saya setengah-tengah, tapi saya bersyukur karena dapat memiliki ilmu berguna.

2. Mengejar yang bukan “Kita”

Di dalam film, tokoh Farhan masuk ke universitas karena ayahnya menginginkan dia menjadi seorang insinyur. Padahal tokoh tersebut tidak ingin menjadi insinyur, melainkan ingin menjadi fotografer. Namun hal tersebut ditentang oleh ayahnya, membuat ia tetap melanjutkan sekolahnya.

Hasilnya ? Ia selalu berada di peringkat akhir. Ia merasa yang ia jalani bukanlah jalannya. Di bagian akhir film, tokoh tersebut akhirnya membujuk ayahnya agar mengijinkan dia menjadi fotografer. Ayahnya mengiyakan dan Farhan pun dibelikan kamera bagus untuk menjadikannya seorang fotografer yang handal. Ia pun menghasilkan karya-karya yang bagus.

Jika saja ia tetap menjalani jalan menjadi insinyur, karya-karyanya yang bagus tidak akan muncul dan ia pun akan menyesal karena tidak mengikuti panggilan hatinya

3. Overthinking

Dalam film, tokoh Raju takut tidak lulus ujian, takut lulus kuliah, takut tidak mendapatkan pekerjaan. Hal tersebut membuatnya tertekan hingga ia berbuat gegabah. Tindakan gegabah tersebut membuat ia dan orang di sekitarnya terkena dampak negatifnya.

Namun setelah kejadian tersebut, ia pun tersadar dari ketakutan yang menyelimutinya. Ia menjadi lebih percaya diri dan tidak cemas akan masa depannya. Hal itu membuat ia lebih fokus akan hari ini, waktu di mana ia dapat memberikan usaha terbaiknya. Karena hal tersebut, ia lolos wawancara dan mendapat pekerjaan.

Sebenarnya masih ada poin-poin yang dapat disampaikan, namun saya cukupkan tiga saja biar sama kayak judulnya ‘3 Idiots’, haha.

Mengudara

Sejak kecil saya punya hobi mendengar radio. Adalah kakek saya yang mengenalkan radio untuk pertama kali. Beliau selalu menyetel radio di malam hari, dengan saluran radio berita sebagai program pilihannya. Saya tidak begitu mengerti apa yang diucapkan oleh si penyiar, tapi satu hal yang pasti, saya mulai terpikat dengan radio.

Ketika kelas 6 SD, hobi mendengar radio makin menjadi-jadi, saya rela tidur larut malam hanya untuk mendengarkan radio padahal esok harinya ada TUC. Kala itu, program siaran yang saya dengar ada belajar bahasa, berita, dan sesi diskusi. Meskipun terdengar membosankan, tapi sungguh, tiga program itu membuat malam -malam saya menjadi menyenangkan. Dari sesi belajar bahasa saya jadi sedikit tahu bahasa lain, dari sesi berita saya menjadi up-to-date akan masalah-masalah yang sedang terjadi, dan dari sesi diskusi saya dapat belajar untuk mendengar dan merespon.

Lulus SD, hobi mendengar radio saya berkurang. Hal itu dikarenakan pelajaran sekolah atau kebanyakan main game. Meski berkurang, saya masih mendengar radio meskipun tidak terlalu sering. Radio yang saya putar biasanya channel-channel radio musik. Dari channel-channel itu saya menjadi tahu musik-musik yang ngetrend (re: saya tidak begitu update tentang musik soalnya).

Masuk SMA, hobi mendengar radio berkembang menjadi menyiarkan radio. Saya masuk ke ekskul broadcasting yang berada di sekolah. Ekskul tersebut menyenangkan bagi saya yang antusias akan dunia radio.

Di awal gabung, saya bersiaran dengan dua teman lain setiap hari Rabu di ruang broadcasting sekolah. Siaran tersebut biasa diisi dengan info-info menarik lalu diselingi dengan ragam lagu. Siaran itu hanya terdengar di dalam sekolah saja, sebab siaran tersebut hanya terhubung dengan sound system dalam sekolah. Meski hanya berdiaran di dalam sekolah saya tetap senang, sebab saya perlahan-lahan menjadi terbiasa bagaimana cara mengoperasikan program radio dan cara mengatur siaran.

Di tahun kedua bergabung, saya dan teman-teman ekskul lainnya melakukan siaran radio via internet. Biasanya kami melakukan siaran di hari Sabtu malam dengan anggota dan konten yang berbeda-beda, alhasil setiap siaran mempunyai kesan unik tersendiri. Di setiap siaran, kami membuka dengan slogan “mengudara tanpa batas” lalu dilanjut dengan musik, info, dan sesi baca-baca salam. Selain diisi dengan tiga hal itu, siaran juga diisi dengan candaan yang terkadang lucu kadang tidak (haha), supaya dapat mencairkan suasana jika tiba-tiba ada blank antar materi siaran.

Sekarang saya sudah tidak di ekskul tersebut karena sudah lulus (ya iyalah…), tapi meski begitu, hobi terhadap dunia radio tidaklah pudar. Saya masih mendengar radio, saya masih ingin belajar tentang dunia penyiaran, semangat saya akan dunia radio masih ada. Saya berkeinginan agar dapat menyiar lagi, merasakan serunya membawa dan mendengar pesan-pesan.

Saya masih ingin mengudara.

Ganti Kacamata

Saya dahulu melihat dunia dalam kacamata hitam-putih. Saya kelompokkan hal dan sesuatu menjadi hitam dan putih. Jika itu putih saya coba untuk dekati, namun jika itu hitam akan saya jauhi. Hal itu semata-mata agar saya tidak terjerumus ke dalam hal yang tidak dinginkan.

Namun setelah beberapa waktu, kacamata hitam-putih itu nampaknya harus diganti. Saya ganti dengan kacamata abu-abu. hal itu karena saya mulai melihat hal-hal yang tak bisa dikategorikan bahwa itu hitam penuh atau itu putih penuh.

Suatu hal yang saya kira putih, ternyata ada hitamnya. Seseorang yang saya anggap ada hitam, ternyata ada putih yang tersembunyi.

Pergantian kacamata ini tentu saja masih tidak membuat nyaman. Masih terbiasa melihat dengan hitam sepenuhnya atau putih sepenunnya. Namun pergantian ini harus dijalani, karena saya yakin hal ini akan bermanfaat nantinya.

Lalu jika sudah terbiasa, maka selanjutnya adalah mengelola penglihatan. Jangan kebanyakan hitam, jangan kebanyakan putih. Hal itu supaya tidak mudah mengecap hitam atau putih seseorang. Semoga saja bisa, aamiin

Lari Pagi (Lagi)

Hampir setahun saya berhenti untuk berlari. Hal itu dikarenakan saya yang tidak dapat mengatur jadwal dengan baik. Alhasil, untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan di tahun lalu, saya harus mengorbankan kesehatan fisik saya.

Tapi bersyukur kemarin saya dapat berlari lagi. Entah mengapa rasanya sebelum hari kemarin, badan saya serasa bersemangat untuk lari. Kaki ingin berlari, lengan ingin mengayun, dan perut ingin kurus, hehe

Saya pun bersiap-siap di pagi hari setelah membantu adik-adik berangkat sekolah. Setelah mereka berangkat, saya mulai pemanasan mulai dari kepala hingga kaki. Beres semua pemanasan, saya keluar dari rumah.

Di awal-awal saya berjalan cepat dulu, karena menurut artikel yang saya baca, jika lari tanpa jalan cepat terlebih dahulu akan menyebabkan jantung bekerja lebih berat, alhasil mudah lelah. Setelah merasa agak enak, saya lari dengan tempo yang biasa, tidak cepat dan tidak pula lambat. Jika lelah, saya berhenti sejenak lalu berjalan. Jika sudah agak kuatan, saya lari lagi.

Lari kali ini saya merasa lebih kuat daripada lari terakhir kali, sebab pada lari terakhir saya merasa lelah sekali dan mual-mual. Namun meski lebih baik, rasa lelah yang luar biasa datang. Inilah hasil tidak berolahraga hampir setahun :’

Saya berlari hingga kembali lagi ke rumah. Sesampainya di rumah, saya lepas sepatu, ambil minum, pendinginan, dan lalu duduk hingga tidur-tiduran. Badan saya lelah sekali, pernafasan ngos-ngosan, dan yang paling ‘asik’, kaki saya cenat-cenut. Keadaan itu sangat tidak mengenakkan.

Namun entah mengapa, lama-kelamaan badan saya malah menginginkan kembali keadaan itu. Menginginkan keadaan lelah, namun lelah itu membawa rasa rileks dan nyaman di kemudian waktu.

Seperti biasa, saya mengambil analogi dari lari itu. Jika ingin sesuatu, maka harus dicapai dengan kerja keras yang terkadang membuat rasa sakit hingga membuat badan atau pikiran tidak ingin mengalami sakit itu lagi, Namun jika kerja keras itu dilakukan hingga mendapat hasil yang diinginkan, maka rasa sakit yang tadinya dirasa akan hilang terganti oleh nikmatnya hasil perjuangan.

 

Lubang Kecil di Sebuah Kapal

Suatu ketika ada dua orang nelayan, yang satu Pak Rusli nelayan lama dan Anto nelayan baru kemarin sore. Mereka sedang berlayar mencari ikan menggunakan sebuah perahu yang bagus, kuat, dan mampu membawa banyak hasil tangkapan. Pokoknya itu perahu adalah idaman setiap nelayan

Ketika sedang mencari ikan, Anto melihat sebuah lubang kecil di perahu itu, lantas ia melaporkan hal tersebut ke Pak Rusli. “Pak, perahunya berlubang, bagaimana kalau kita berlabuh terlebih dahulu untuk memperbaikinya ?”, lapor Anto.

Sambil mengemudikan setir kapal, Pak Rusli berkata, “Ah gapapa le, lubangnya kecil ini, ga bakal bikin tenggelam”.

“Tapi Pak Rus kalau dibiarin, lama-lama juga tenggelam”, jawab Anto meyakinkan bahwa lubang kecil itu adalah sebuah urgensi.

Mendengar itu, Pak Rusli berhenti mengemudi dan berkata, “Kamu jangan terlalu panik, saya sudah bertahun-tahun berlayar menggunakan kapal ini dan sampai sekarang belum pernah tenggelam meskipun ada lubang kecil itu.”

“Tapi Pak, hari ini dikabarkan akan ada ombak besar. Meskipun kapal ini kuat, saya yakin akan tenggelam jika lubang kecil itu tidak ditambal segera”, Anto masih tetap berusaha meyakinkan.

“Ah sudahlah, tidak perlu dibesarkan-besarkan. Sekarang kamu mending fokus memperbaikin jala yang rusak kemarin”, Pak Rusli sudah kesal karena keras kepalanya Anto.

Setelah debat itu, kedua orang tersebut kembali ke tugasnya masing-masing.

Beberapa jam kemudian, ombak besar yang dikabarkan muncul dan menabrak kapal Pak Rusli dan Anto. Alhasil kapal bagus yang dinaiki kedua nelayan tersebut tenggelam dan membuat kedua nelayan itu harus berenang ke pulau terdekat untuk menyelamatkan diri.

Jika saja Pak Rusli mau mendengar saran Anto, besar kemungkinan kapal mereka tidak perlu tenggelam dan mereka tidak perlu capek-capek berenang. Namun yah kalau sudah kejadian, apa boleh buat haha.


Cerita di atas terinspirasi akan keadaan sekarang, dimana ada orang-orang yang menganggap sepele suatu yang besar, padahal suatu yang besar itu menyangkut kemaslahatan banyak orang. Alhasil ada orang-orang lain yang mau memperingatkan supaya orang-orang yang menyepelekan itu agar mau sadar. Namun sayang, nampaknya belum sadar juga. Semoga saja mereka cepat sadar, aamiin.

Ngulek Sambal

Akhir-akhir ini saya sedang belajar masak. Namanya belajar, alhasil ada hasil-hasil yang gagal, mulai dari rasa yang kurang hingga tekstur makanan yang absurd.

Hari ini saya iseng bantuin ibu masak. Beliau yang goreng-goreng, saya yang ngulek sambalnya. Ketika ngulek, ayah datang sambil nyicip-nyicip dikit. Melihat saya sedang ngulek, beliau langsung mengajari cara ngulek yang baik. Nampaknya ngulek saya belum mantab, haha.

Sambil ngajarin, beliau berkata “ulekan mempengaruhi rasa (re: makanan)”. Seketika, saya terinspirasi. Ada sebuah analogi yang muncul.

Mengulek adalah sebuah proses memasak. Jika ulekannya baik, makanannya enak. Jika ulekannya tidak bagus, rasa makanannya berkurang.

Hal itu serupa dengan kehidupan kita, dimana kehidupan kita takkan lepas dari yang namanya proses. Tanpa proses, tidak akan ada hasil. Walaupun ada, namun jika tidak melalui proses, saya yakin hasilnya tidak akan sebagus yang melalui proses.

Orang pintar hasil menyontek, akan beda kualitasnya dengan orang pintar hasil belajar. Pemimpin beorientasi mengumpulkan harta, akan beda kinerjanya denga pemimpin berorientasi rakyat.

Maka dari itu, saya ingin mengingatkan kembali bahwa proses itu penting. Jangan dilewati, jangan dihindari, apalagi dicurangi. Karena dampaknya bukan hanya ke individu, namun juga ke yang lain.

Well transisi tulisannya absurd juga kal ini, haha. Sekian dan trims.

Kecil ke Besar

“Mengorbankan hal kecil untuk mendapat hal besar”

Sepintas kalimat tersebut tampak mudah untuk dilakukan toh hanya hal kecil yang dikorbankan. Tapi pada kenyataannya, kalimat yang mudah itu, sulit dikerjakan di kehidupan.

 Contoh, sudah berapa kali kita mau menunda menonton tv untuk belajar ?Sudah berapa kali kita mau meninggalkan sedikit zona nyaman supaya dapat melatih percaya diri ? Sudah berapa kali kita mau berhenti berbicara supaya dapat menjadi pendengar yang baik ?

Itu hanya beberapa contoh, masih banyak yang dapat dipaparkan. Namun begitu, contoh-contoh itu cukup untuk menjelaskan, bahwa kita belum sepenuhnya dapat meninggalkan “hal kecil” itu. Padahal, pengorbanan hal-hal kecil itu dapat membawa kita ke sesuatu yang lebih besar, lebih bermakna.

Saya sendiri juga belum bisa sepenuhnya terlepas dari hal-hal kecil itu. Meski begitu, saya tetap berusaha untuk dapat mengorbankan hal-hal kecil itu. Semoga saja bisa, hehe.

Sekian untuk kali ini, semoga bermanfaat untuk saya dan Anda para pembaca tentunya, trims.