Gelembungku bukan Gelembungmu

Akhir-akhir ini saya terpapar akan konsepsi “filter bubble”. Pada awalnya saya mengira bahwa filter bubble ini adalah sejenis bubble yang biasa ditemukan pada cappucino cincau, haha. Pada kenyataannya, filter bubble adalah sebuah fenomena dalam dunia digital, jauh sekali korelasinya dengan cappucino cincau.

Filter bubble, menurut definisi, adalah sebuah isolasi intelektual yang dapat terjadi ketika website menggunakan algoritma untuk menyeleksi secara asumtif terhadap informasi yang ingin dilihat oleh pengguna. Asumsi yang dipakai, didasarkan oleh informasi terkait pengguna seperti perilaku mengklik, history browsing & search, serta lokasi.

Setelah tahu definisinya, pada awalnya saya (mungkin anda juga) mengira bahwa hal ini biasa-biasa saja, tak begitu mengkhawatirkan, sebab kita jadi makin tahu dan ‘tenggelam’ dalam hal yang kita sukai. Contoh, karena saya sering melihat jaket-jaket, Instagram saya jadi penuh akan berbagai iklan yang menampilkan model jaket yang keren. Hal yang menyenangkan bukan ?

Namun sayang, hal ini sebenarnya membahayakan. Sebab gelembung ini dapat ‘membutakan’ kita.

Ilustrasi jaket merupakan contoh gelembung yang biasa-biasa saja, namun apabila yang menjadi contoh gelembungnya adalah tentang politik maupun pandangan akan sesuatu, tentu saja ini mengkhawatirkan.

Bayangkan saja, ketika kita menyukai suatu tokoh atau setuju akan suatu pendapat, kita cenderung akan selalu mencari info tentangnya. Dengan kekuatan gelembung itu kita makin terlarut-larut ke dalam pandangan yang kita suka dan kontra akan hal-hal yang bersebrangan tanpa mau berpikir lebih lanjut.

Lalu, apa yang perlu dilakukan ketika terperangkap dalam gelembung tersebut ?

Well, ada dua jenis cara keluar, yaitu :

  • Pertama dari sisi teknologi, yang tidak saya bahas di sini (tapi kalian bisa cek di :https://www.quora.com/How-can-I-avoid-filter-bubbles).
  • Kedua, dari sisi mindset, yaitu dengan tidak langsung percaya pada pemberitaan pertama. Check n’ Re-Check, bersikap skeptis terutama pada pemberitaan yang terkesan terlalu ‘manis’

Sekian tulisan tentang gelembung ini. Di Indonesia pembahasan mengenai filter bubble belum begitu ramai sepertinya, CMIIW. Jika ada yang tahu lebih tentang hal ini, boleh diskusi di sini. Trims~

 

Advertisements

My Sanctuary

My sanctuary is based from connections between friendship

When I’m facing hardship,

I’ll back to my sanctuary

to gather my strength,

to gather my

courage.

( Inspired by : Utada Hikaru – Passion/Sanctuary)

 

Uni, Versitas

Tadi sore saya mengikuti sebuah kajian psikologi yang diadakan oleh Kastrat-nya BEM Fakultas Psikologi. Alasan mengikuti ? Yah, tertarik saja dan hitung-hitung sebagai jalan-jalan sebab saya belom pernah masuk ke dalam fakultas ini.

Yang akan didiskusikan pada kajian kali ini adalah tentang sejauh mana kita bermedia sosial. Diskusi dilakukan secara berkelompok lalu pada akhir acara moderator akan menyimpulkannya.

Saya beranggapan bahwa apa yang akan disimpulkan moderator akan mengenai kajiannya saja. Ternyata tidak demikian. Ia menyinggung hal lain. Hal yang membuka mata.

“Sekarang saya minta Anda untuk tutup mata”, kami menutup mata. “Bagi yang merasa pikiran dan pandangannya jadi terbuka karena diskusi ini, mohon angkat tangannya”. Sebagian besar mengangkat tangannya.

“Tujuan dari kajian ini, tidak serta-merta hanya untuk membahas permasalahan. Tapi juga untuk membuka pandangan dan juga memberi pesan bahwa tak ada jurusan yang lebih superior. Semua mempunyai pandangan dan kelebihannya masing-masing yang membuat kita saling membutuhkan satu sama lain.”

“Kita adalah uni, orang-orang yang menyatukan berbagai diversity (perbedaan). Kita adalah universitas.”

Itu kira-kira yang diucapkan oleh moderator ketika acara berakhir. Kata-kata tersebut memberi sebuah renungan bahwasanya apa pun jurusannya, haruslah berbangga hati. Sebab jurusan yang dijalani memiliki andil tersendiri dalam konteks membuat kemajuan.

Di sisi lain, hal ini juga seharusnya menjadi harapan, bahwa apa pun jurusannya, kesempatan untuk mencari rezeki terbuka lebar. Dengan catatan, mau untuk terbuka akan hal-hal baru.

Jadi, maukah Anda membuka diri dan terus belajar ? Maukah Anda menjadi sebenar-benarnya bagian universitas ?

Berorganisasi atau ‘Diam’

Hal di atas adalah sebuah pertanyaan yang (mungkin) dialami oleh mayoritas mahasiswa. Bingung antara ingin ikut organisasi atau tidak. Kalau ikut organisasi khawatir akademis akan terganggu. Di sisi lain, ketika tidak berorganisasi takut tak memiliki soft-skill yang diperlukan di dunia kerja nanti.

Saat terjebak dalam pilihan tersebut, ada yang harus ditanyakan ke pada diri. “Apa alasan saya melakukan ini ?”

Ketika masuk organisasi, harus jelas akan apa yang ingin dilakukan dan didapat dari sana. Tak bisa hanya berlandaskan alasan “rekan-rekan saya pada ikut ini, saya juga deh”. Jika alasannya seperti itu, ada kemungkinan kinerja tak maksimal, manfaat yang didapat tak seberapa.

Di lain sisi, ketika memutuskan untuk ‘diam’, tidak berorganisasi, harus ada hal yang perlu ditekuni. Entah itu membangun bisnis, bikin blog, atau gemar mengikuti perlombaan. Pokoknya harus ada hal lain yang dikerjakan agar menjadi nilai tambah diri.

Berangkat dari perkataan di atas, jelas bahwa yang saya ingin sampaikan adalah bukan tentang masalah aktif berorganisasi atau tidaknya, tapi tentang keaktifan diri dalam mengasah diri, mencoba untuk memberi personal value

Jadi, yuk mari gerak di bidang yang disukai. Entah itu berada di organisasi atau berada di non-organisasi, karena tiap orang memiliki jalannya masing-masing yang tak seorang pun berhak mencacinya.

Kekalahan Pertama

Beberapa minggu yang lalu saya dan Rara mengikuti lomba komunikasi yang diadakan oleh suatu universitas ternama di negeri ini. Cabang lomba yang kami ikuti ialah lomba periklanan dengan tema emotional advertising.

Mengikuti perlombaan (yang akademik) seperti ini merupakan hal baru bagi saya. Karena mulai dari SD hingga SMA, saya hanya belajar dan yang paling penting main, hehe. Berlandaskan begitu flatnya kehidupan sekolahannya itu, saya ingin menantang diri saya, “lu bisa ga sih ngelakuin hal semacam ini?”

Perlombaan ini mengharuskan membuat tim, saya pun mengajak Rara dengan dua pertimbangan. Ia dapat diajak kerjasama dan memiliki kreativitas. Pada awalnya ia enggan, sebab belum pernah ikut lomba yang seperti ini. Tapi dengan bujukan berupa “udah gapapa, ikut dulu aja. Nothing to lose”, akhirnya ia bersedia.

Pengerjaan proyek lomba dilakukan di waktu-waktu akhir dan sedikit tersendat karena waktu itu sedang masa pengenalan jurusan, tugas yang menumpuk, dan Rara terkena sakit. Meski mengalami semua itu, kami akhirnya berhasil membuat karyanya dan mengumpulkannya tepat pada waktunya.

Kira-kira seminggu lebih kami menunggu pengumuman finalis keluar dan hasilnya….

YES !!!

Kami belum lolos, hehe.

Para finalisnya ada yang berasal dari universitas saya dua tim dan sisanya saya lupa.

Melihat kekalahan itu tentu saja campur aduk rasanya. Ada rasa kecewa dan sedih karena tak lolos. Ada rasa biasa-biasa saja karena sedari awal sudah ter-mindset bahwa jika kalah itu wajar sebab lomba ini adalah yang pertama kalinya bagi saya dan Rara. Namun ada pula rasa senang, sebab pada pengumuman finalis, disebutkan pula nilai-nilai per tim pada aspek-aspek yang dinilai. Hal tersebut membuat kami mempelajari apa saja kekurangan yang kami miliki.

Lomba kali ini memang kekalahan pertama kami, tapi yang jelas ini adalah pijakan pertama kami. Pijakan untuk melangkah ke perlombaan lainnya.

Bagi saya sendiri, lomba ini juga langkah pertama bagi saya untuk mendorong diri untuk menjadi pribadi yang prestatif. Saya ingin mlihat seberapa jauh saya mampu mendorong diri.

Sebuah Renungan Mahasiswa

Kelas Jumat yang lalu membuat saya malu dan tentu saja merenung. Sesi diskusi yang ada tak berjalan dengan lancar. Bukan, ini bukan hanya tentang mahasiswa yang tak tahu akan materi, tapi condong pada mahasiswa yang enggan untuk mencoba.

Seperti sesi diskusi biasanya pertanyaan dilontarkan dan seharusnya yang selanjutnya terjadi adalah melayangnya buah-buah pikiran. Tapi hal itu tak terjadi. Hanya keheningan yang ada.

Ketika ingin berpendapat, yang muncul terlebih dahulu ialah pikiran “bagaimana kalau pendapatku ini kurang tepat” bukannya pikiran “bagaimana pandanganku terhadap hal ini”. Mungkin ini karena kita yang terbiasa mendengar tanpa ingin mencoba untuk bersuara. Mungkin ini juga karena kebiasaan kita yang hanya ingin menerima tanpa mau memberi. Mungkin. Sekali lagi ini hanya kemungkinan.