Banjir Informasi

Sumber informasi kini tak hanya sebatas di kertas maupun di buku, tapi juga ada di dalam dunia yang tidak dapat disentuh, yaitu dunia digital. Dunia tersebut sangat cepat perputaran informasinya. Tiap hari, tiap jam, bahkan tiap detik, informasi baru bermunculan. Efek dari derasnya informasi, membuat kita terhanyut dalam “Banjir Informasi” (Saya mengutip istilah tersebut dari lagu “Hijau” – Efek Rumah Kaca, coba dengerin deh)

Adanya banjir tersebut menghasilkan plus dan minus. Plusnya, terkadang tanpa sengaja kita jadi tahu akan hal-hal baru. Contoh nyatanya adalah ketika saya iseng buka video musik di yutup yang di-recommend, muncul album “Sinestesia” ini, membuat saya tahu bahwa ERK telah merilis album ketiganya. Plus yang lainnya mudah update akan berita-berita, baik yang dekat seperti berita kota, maupun yang jauh seperti berita luar negeri.

Minus yang didapat, pertama adalah tenggelam dalam banjir informasi. Begitu banyak berita dan informasi yang ada, membuat kita terkadang begitu asyik membacanya hingga membuang waktu. Hal tersebut saya rasakan sendiri, ketika sudah melihat suatu web yang kontennya saya suka, saya dapat sejam menghabiskan waktu di dalamnya.

Minus kedua adalah tenggelam namun dalam versi lain. Dalam hal ini, dimaksudkan ketika terdapat suatu berita atau informasi mengenai suatu permasalahan. Kala dihadapkan kepada suatu pemberitaan seperti itu, konsumen informasi cenderung menjadi hakim, menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar. Selain hakim, terkadang juga menjadi penyulut yang dimana hanya membuat suatu perdebatan yang tidak meningkatkan ilmu, tapi meningkatkan emosi (jadi terpelatuk, lul)

Mengatasi kedua minus tersebut, dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, ya jauhi teknologi. Bukan berarti sepenuhnya ya, hanya menjauhi ketika info-info yang beredar hanyalah yang membuat emosi. Kedua, dengan cara menahan diri agar tidak berkomentar. Komentar boleh, tapi ingat, terkadang apa yang kita sampaikan, berlawanan dengan opini dalam informasi beserta orang-orang yang mendukung info tersebut. Jika dirasa opini kita malah membakar amarah, lebih baik diam dulu, lalu menyampaikannya ketika berada di waktu yang tepat.

Tulisan ini dimaksudkan sebagai pengingat agar tidak terjerembab dalam minusnya banjir informasi. Sekian tulisan kali ini, semoga bermanfaat.

P.S. : Mohon maaf jika tulisannya agak berantakan, hehe.

Advertisements

Cendekia Jadi Petapa

Dalam album Efek Rumah Kaca,  yaitu Sinestesia, ada warna yang saya suka. ‘Merah’.

Dalam ‘Merah’ tersebut, terdapat ‘Politik’ di dalamnya. Di antara lirik-lirik yang ada, saya terpaku pada lirik ‘Cendekia jadi petapa’.

Ada yang memaknai potongan lirik tersebut yaitu tentang dibungkamnya para orang pintar, entah karena takut ada yang goyah maupun sengaja agar orang pintar tetap dangkal. Meski ada makna tersebut, saya memiliki penafsiran sendiri.

Lirik tersebut saya maknai, ‘orang-orang pintar yang sengaja diam’. Memang sih diam itu emas, namun tak semua hal dapat kita diamkan. Ketika ada suatu ketidakadilan, itulah waktunya bersuara. Ketika ada suatu penindasan, itulah waktunya bersuara. Ketika ada suatu upaya menghitamkan yang putih, itulah waktu bersuara.

Jika belum mampu bersuara lantang, setidaknya bersuara pelan. Jika belum mampu bersuara pelan, setidaknya berbisik-bisik. Jika berbisik-bisik pun tak bisa, biarkan hati yang bersuara lewat doa.

Coba-coba

Akhir-akhir ini saya sedang menantang diri untuk selalu coba hal yang baru. Mulai dari hal remeh-temeh hingga yang lumayan serius. Contohnya, saya mencoba jengkol meskipun katanya bikin bau mulut. Awalnya sih ragu-ragu mencobanya, tapi makin lama, enak juga rasanya 😀

Namun terkadang, rasa ingin coba itu membuat saya terjerumus pada keputusan yang akhirnya saya sesali. Contoh nyatanya, ketika saya menemukan teh tawar dingin dijual di supermarket. Karena rasa ingin coba yang berlebih, saya beli teh tersebut dan dalam otak saya terngiang suara “tehnya enak, manis”. Saya harusnya sadar bahwa teh tawar tersebut ya… tawar, tidak berasa. Terlanjur membeli, ya saya teguk terus teh tawar ini dengan rasa menyesal di kantong :’I

Tiada api tanpa asap. Saya berperilaku seperti ini tentu saja ada sebabnya. Sebabnya ialah untuk melawan rasa takut. Jujur saja, rasa takut saya kian meningkat. Takut untuk bertindak, bersuara. Dengan berusaha mencoba sesuatu, saya harap rasa takut ini berkurang meskipun saya bingung di mana korelasi langsungnya, hahaha. 

Waduh, Kok Gitu ?

Mungkin karena lelahnya seminggu ke belakang, apalagi puncaknya hari Minggu kemarin, membuat tubuh ini ngekode butuh istirahat. Alhasil, saya bangun jam 7.00 padahal jam 7.30-nya ada kelas. Mantab.

Meski dikejar waktu, saya masih menyempatkan diri untuk menonton TV sambil sarapan ditemani nasi yang telah masak kemarin malam. Di TV muncul sebuah berita mengenai hakim di Manado yang terkena OTT-nya KPK. Hal tersebut membuat saya kaget dan bertanya-tanya. Bagaimana bisa, tempat yang seharusnya putih, malah terdapat bercak-bercak hitam di dalamnya ? Melihat jarum panjang yang semakin mendekat dengan angka 6, saya selesaikan sarapan, mandi, lalu berangkat dengan pikiran yang masih terngiang akan berita tersebut.

Sekitar jam 20.00, saya mulai menggali lebih jauh akan berita tersebut. Ternyata, berita tersebut ialah tentang suap yang dilakukan seorang politisi muda. Politisi tersebut menyuap hakim ini untuk memengaruhi putusannya terhadap suatu kasus. Apakah kasus tersebut ? Kasusnya ialah kasus korupsi yang menjerat ibunda dari politisi muda tersebut. Dari satu korupsi ke korupsi yang lain.

Saya tidak ingin berbicara lebih lanjut akan kasusnya, tapi lebih ke para pemeran di kasus tersebut. Saya menyayangkan hakim mau menerima suap tersebut. Karena dengan penerimaan suap tersebut, menandakan bahwa ia lebih memilih untuk jadi kaya dibanding jadi jujur. Saya menyayangkan pula politisi muda yang menyuap. Karena dengan penyuapan tersebut, menandakan bahwa ia hanya pintar tapi rasa adil dan jujurnya tiada.

Selesai gali-gali, saya termenung. Jika tempat di mana keadilan seharusnya ada saja terdapat ketidakadilan, lalu harus di mana lagi keadilan bernaung ? Jika orang pintar di sini banyak yang seperti itu, nanti keadaan ke depan bagaimana ?

P.S. : Mohon maaf jika tulisannya agak berantakan atau aneh, lagi BM, tapi kalau kelamaan tidak nulis, entar malah makin-makin ehehe.

1994 Hingga Seterusnya

Sambil menunggu nasi matang, saya baringkan diri ini ke kasur. Iseng-iseng, saya buka beberapa video YouTube offline yang telah diunduh dengan wifi kampus. Salah satu video yang ditonton membuat wawasan akan generasi saya, generasi milenial, bertambah.

Dalam video tersebut, saya ambil beberapa poin penting. Pertama, kaum milenial perlu diajarkan akan harga diri. Kedua, milenials perlu diasah kemampuan sosialnya. Ketiga, milenials perlu menyeimbangkan diri.

Pada post ini, saya ingin berfokus pada poin ketiga yaitu tentang perlunya penyeimbangan diri. Berbicara tentang milenials, berarti yang harus diseimbangkan adalah hidup dan teknologi.

Dari bayi hingga detik ini, milenials tidak lepas dari teknologi. Bagaimana tidak, karena waktu lahir dan tumbuh kita adalah waktu yang sama dengan perkembangan teknologi. Ada plus dan minus dari hal ini. Plusnya, kita menjadi lebih cerdas karena kita mudah mengakses segala jenis informasi. Minusnya, kita menjadi ketergantungan.

Ketergantungan akan teknologi dapat dilihat paling simpelnya melalui penggunaan handphone. Orang merasa ada yang kurang apabila bepergian tanpa hp dalam genggamannya. Ketika menunggu rapat atau kumpul, orang lebih memilih terpaku pada layarnya daripada bercakap dengan orang yang sudah hadir. Dan yang paling aneh, ketika kita sedang ngumpul dengan orang, kita malah asyik sentuh-sentuh layar.

Jika sudah ketergantungan, ada aspek kehidupan yang terpengaruh, salah satu contohnya adalah cara kita menghadapi tekanan. Alih-alih mengkomunikasikan tekanan ini dengan yang terdekat, orang lebih memilih untuk menceritakannya ke dalam media sosial. Untung kalau ada yang mau coba meng-support menghadapi tekanan tersebut, kalau malah dapet hal yang tidak mengenakkan seperti cercaan bagaimana ? Apa ga tambah keteken.

Saya adalah salah satu dari generasi milenial. Hal-hal yang disebutkan di atas, pernah saya lakukan juga. Dengan tulisan ini, saya harap dapat menjadi pengingat bahwa diri ini masih ada yang perlu dibenahi. Langkah kecil yang memungkinkan agar terlepas dari ketergantungan ini, mungkin dengan tidak pakai HP selama sejam per harinya. Semoga saja bisa, aamiin.

Enggan Melangkah Kecil

Kelas tadi pagi disuguhi sebuah pertanyaan, upaya apa yang dapat dilakukan untuk memajukan pendidikan di Indonesia ? Ada yang menjawab bahwa perlu ditingkatkan minat bacanya, ada yang menjawab fasilitasnya lebih ditingkatkan, ada lagi yang berpendapat bahwa masyarakatnya perlu diberi motivasi. Berbagai jawaban sudah dilayangkan, namun nampaknya dosen belum puas. Alhasil, beliau buka suara.

“Bagaimana negeri ini bisa maju kalau orang-orangnya masih berbicara sekedar teori tanpa ada bukti konkret”, itulah kira-kira pesan yang dosen keluarkan. Kata-kata tersebut membuat saya terpukul hingga membuat sadar, bagaimana tidak, karena saya juga menjadi orang teoritis tersebut. Kita dituntut untuk menemukan solusi, tapi kita malah berfokus dalam mengemukakan teori-teori.

Berteori itu perlu, tapi ada waktunya. Lalu kapan waktunya ? Di saat orang sudah mulai melepas keengganannya untuk melangkah kecil. Karena dengan mulai melangkah, langkah yang kecil, seseorang sudah memberikan suatu kontribusi kecil yang nyata. Kembali ke pertanyaan tentang upaya peningkatan pendidikan, ketika mahasiswa di kelas masih mengemukakan apa yang seharusnya dilakukan, seorang tukang becak di Yogyakarta sudah memberikan upaya yang berarti. Beliau membuat becaknya menjadi perpustakaan berjalan, dengan harapan mampu meningkatkan minat baca orang-orang di sekitarnya.

Setelah kelas berakhir, saya mulai mencoba untuk melepas kebiasaan orang teoritis agar cepat-cepat dapat menjadi orang yang berkontribusi meskipun kecil. Semoga berhasil, aamiin

 

Nyepik di Depan Orang

Berbicara di depan umum membawa suatu kesenangan tersendiri bagi saya. Ada berbagai rasa di dalamnya, mulai dari gugup karena takut tidak bagus hingga senang ketika mendapat apresiasi dari para audiens.

Meski suka, bukan berarti saya mahir. Justru sebaliknya. Masih banyak hal yang kurang, mengingat saya yang tergolong introvert dan juga tidak tahu betul apa saja yang perlu dilatih dalam berbicara di muka umum.

Salah satu kekurangan yang biasanya kambuh, ialah sindrom rapper. Saya berbicara terlalu cepat hingga terkadang membuat bingung pendengarnya. Bagaimana tidak bingung, jika sindromnya kambuh, pendengar bisa melihat ketidaksinkronan antara mulut dengan suara yang dikeluarkan. Kayak nonton film, tapi subtitle-nya tidak pas.

Ada dua hal yang dapat saya lakukan agar sindrom tersebut tidak kambuh. Pertama, lebih menjinakkan rasa gugup, karena perasaan tersebutlah yang biasanya membuat saya ingin buru-buru selesai ngomong. Kedua, mengondisikan waktu. Karena takut materi yang ingin disampaikan melebihi waktu yang diberikan, saya jadi memborbardir audiens tanpa jeda.

Tahu obatnya bukan berarti dapat menyembuhkan sindromnya. Karena untuk menghilangkan sindrom tersebut, bukan hanya obat, namun juga terapi. Dan dalam hal ini, terapi yang saya maksud ialah menambah jam terbang berbicara di depan umum. Semoga saya dapat menemukan media terapi yang pas, aamiin.