Bingung

Sejak SMA kata “kritis” telah diketahui. Sekedar tahu, namun tak mampu memahami. Seringkali guru bilang ke pada murid untuk berpikir kritis, tapi saya tak tahu apa itu.

Upaya-upaya untuk mengetahui dan memahami apa itu kritis tak membuahkan hasil, hanya membuat diri ini semakin bingung dan penasaran.

Tadi pagi, seorang teman menceletuk akan kata kritis lagi. Hal itu menyalakan kembali tanda tanya tentang apa itu kritis. Apakah saya sudah kritis ? Tunggu, saya saja tidak tahu apa itu kritis, mengapa saya perlu menanyakan diri ini kritis atau tidak ? Huft.

Advertisements

Start It From The Bottom

Sc : Jepretan teman. Sebuah ilustrasi kebingungan

Akhir-akhir ini saya baru mulai belajar hal baru, yaitu desain grafis di Corel Draw. Alasan saya mempelajarinya ? Tidak ada. Ok, saya bercanda. Ada tiga alasan, pertama untuk memerangi kejenuhan rutinitas, kedua itung-itung nambah skill, dan ketiga ada keinginan untuk membuat suatu proyek.

Sebenarnya belajar Corel sudah pernah saat SMA kelas 1 dulu, sebab waktu itu masih ada kelas komputer. Namun setelah kelas 1, pelajaran tersebut ditiadakan karena alasan aturan, seingat saya. Sejak ditiadakannya kelas tersebut, ya saya mulai lupa akan pelajaran Corelnya, hehe. Karena lupa banget banget banget, alhasil saya belajar lagi, mulai dari nol (ini bukan maksud mereferensi petugas SPBU) 

Mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan skill, tentu saja cara terbaiknya ialah dengan “hajar langsung”, bikin karya tanpa mikir-mikir. Saya klik itu new document, lalu coba membuat sesuatu.

Berhasil! Saya menciptakan kotak-kotak yang berisi informasi dan tentu saja dihiasi artistik seadanya. Hasil tersebut, bagi saya, ya masih dalam kategori sederhana sebab masih polos, belum ada pakai alat-alat yang lain.

Puas kah saya ? Tentu saja tidak, saya merasa masih bisa lebih baik lagi, lebih terhias lagi, dan yang paling penting, lebih bermanfaat lagi. Dari jam 7 hingga jam 9 malam, saya tenggelam dalam informasi-informasi mengenai belajar corel, berusaha untuk lebih baik lagi.

Jika mengingat-ingat tentang berkarya, saya jadi ingat ceritanya Tara Arts, ia adalah pencipta konten di yutup. Ia pernah berkisah dalam sebuah videonya, yang intinya jika berkarya itu “apa adanya dan ada apanya”. Hal itu dimaksudkan kalau ingin berkarya namun tak memiliki alat yang dibutuhkan maka coba berkarya dengan alat yang seadanya. Lambat laun, setelah karyanya berkembang, beli atau upgrade alat yang ada agar karyanya dapat berkembang pula.

Kisah Tara tersebut cukup menginspirasi saya dalam belajar Corel ini agar tidak menyerah hanya karena baru bisa ngerti beberapa alat. Coba terus, belajar hingga akhirnya tahu dan bisa menggunakan alat Corel yang ada, untuk menciptakan suatu karya.

Lanjut gambar lagi ah~

Sarwono dan Pingkan

Baru saja selesai baca novel “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Darmono. Novel tersebut sebenarnya sudah lama saya bawa dari rumah ke kos, namun baru akhir-akhir ini saja baru dapat membacanya.

Novel tersebut menceritakan kisah Sarwono dan Pingkan yang berusaha merajut jalinan cinta. Usaha mereka mendapat banyak intervensi, mulai dari pihak keluarga, lingkungan, hingga pekerjaan yang di mana Sarwono ialah anthropolog bertugas di Indonesia sedangkan Pingkan di Jepang.

Kala membaca novel tersebut saya begitu senang karena jadi dapat tahu hal-hal baru seputar negeri ini. Tak lupa juga saya merasa sedikit asing ketika terdapat hal-hal terkait kebudayaan yang saya belum ketahui.

Mengikuti kisah mereka berdua serasa menyimak kisah cinta anak muda, sebab baik Sarwono maupun Pingkan, memperlihatkan hal-hal lucu namun romantis.

Meski menikmati, pada bagian akhir novel ada bagian yang mengganjal. Apakah hal tersebut ? Coba baca novelnya, hahaha~

Ya…

Lagi sering-seringnya ke sini, entah untuk panggilan ibadah atau sekedar menyendiri. Selalu ada atmosfir ketenangan yang menyeruak ketika berada di dalamnya.

Ketika ada sesuatu yang membuat hati atau badan kurang nyaman, tempat ini berhasil membantu agar ketidaknyamanan itu lekas pergi.

Bersilaturahmi ke rumah-Nya memang pilihan terbaik.

Kenalan dengan Pak Ganjar

Tayangan QnA yang menghadirkan Ganjar Pranowo sebagai narasumber, menarik perhatian saya. Jujur saja saya kenal beliau hanya sebatas nama dan posisinya. Selesai tayangan tersebut, rasa keingintahuan mencuat dalam diri, ingin tahu lebih akan beliau ini.

Kepemimpinannya mulai dilatih sejak bergabung dengan GMNI dan nampaknya latar pendidikannya yang berupa hukum membuatnya lebih concern akan nilai-nilai yang kebenaran.

Seperti biasanya, saya tertarik untuk mencari tahu lebih dalam tentang beliau, bukan hanya karena popularitasnya tapi juga karena bagaimana gerak-gerak dan cara berbicaranya. Karena menurut saya, penilaian yang paling terlihat, siapapun orangnya, dapat dilihat dari sikapnya.

Dalam berhadapan dengan masalah, beliau selalu jelas step-by-step-nya. Kala berhadapan dengan yang salah, beliau dengan tegas menegur, sebab hal salah tersebut ia anggap merugikan rakyat.

Itu baru hal-hal seriusnya, untuk hal sehari-hari, beliau juga menginspirasi saya. Peduli akan kebersihan & bercanda gurau di waktu dan dengan cara yang tepat benar-benar menandakan bahwa hal di luar keseriusan juga penting untuk menjaga kinerja.

Kekurangan yang beliau miliki katanya adalah terlalu percaya. Saya belum begitu menangkap kepada siapakah terlalu percayanya, namun hal itu cukup untuk mengingatkan dirinya dan diri saya juga bahwa manusia itu kurang dan perlu untuk terus berkembang dan berbenah diri.

Apa-apa yang beliau perlihatkan membuat saya kembali optimis dalam menghadapi masalah yang sedang berada di depan mata (meski masih ada pesimisnya sih). Terima kasih Pak, sudah menyemangati (secara tidak langsung)!