Media Sosial Beserta Seluruh Isinya

Kurang lebih tiga bulan saya tinggalkan medium ini dan rasanya bersalah. Pada beberapa tulisan sebelumnya saya menyatakan untuk berusaha konsisten menulis di sini. Namun apa daya, antara keinginan dan realita tidak bertemu.

Kesempatan kali ini saya akan bercuap mengenai media sosial. Jika bosan sila baca artikel lain, jika tertarik sila duduk manis dan lanjutkan membaca sembari menyeruput teh manis hangat.

Ketika perkuliahan tadi ada sebuah pendapat tentang solusi agar keributan yang terjadi akibat media sosial tidak berlarut-larut. Apa solusinya? Hilangkan media sosial.

Solusi tersebut tentu ada dasarnya. Menurut yang berpendapat, mengapa akhir-akhir ini makin keruh suasananya, sebab arus informasi begitu deras. Tiap orang dapat dengan mudah membuat akun media sosial lalu menyebarkan informasi yang tak jarang menimbulkan konflik meskipun tidak ada niatan.

Saya tentu tidak langsung angguk-angguk sebab merasa solusi tersebut kurang efektif. Pandangan saya, yang perlu dibenahi ialah tata cara penggunaan media bukan media itu sendiri. Media hanya merupakan tool.

Advertisements

Memaknai Emosi dan Keinginan Lewat Mob Psycho 100

Beberapa waktu yang lalu saya tidak sengaja menonton animasi Mob Psycho 100 musim kedua. Setelah menonton beberapa episode, saya memutuskan untuk langsung membaca komiknya. Saya orangnya tidak sabaran dalam hal menunggu, apalagi kalau sudah terkait dengan suatu serial. Ketika diberi pilihan membaca komik yang ceritanya sudah selesai atau tayangan yang ceritanya baru separuh jalan, tentu saya akan memilih pilihan pertama.

Singkatnya Mob Psycho 100 menceritakan seorang anak SMP bernama Kageyama ‘Mob’ Shigeo yang memiliki kekuatan supernatural amat kuat. Namun, hal yang membuat saya terpikat akan serial ini bukanlah karena cerita tentang kekuatan supernya. tapi tentang bagaimana Mob mengendalikan emosi dan keinginannya. Mengatur emosi dan keinginan, menurut saya, dekat sekali kaitannya dengan realita kehidupan.

Mob yang memiliki kekuatan super seharusnya dapat bebas melakukan apa saja dan mendapatkan apapun yang dia mau tanpa harus bersusah payah. Namun, hal tersebut tak pernah terpikirkan olehnya dan bahkan menolak konsep tersebut. Menurutnya, kebahagiaan sejati hanya dapat digapai dengan usaha, bukan dengan jalan pintas (baca: menggunakan kekuatan super). Misalnya saja, ketika Mob ingin menjadi pelari atletis supaya gebetannya menyukainya, ia tak menggunakan kekuatan super untuk memperkuat otot-otot tubuhnya. Ia malah melatih fisiknya yang kerempeng dengan teman-teman berotot kekar di klub olahraganya. Tak jarang ia harus pingsan di tengah latihannya dan akhirnya digendong oleh teman klubnya.

Di usianya yang muda, Mob mengalami kesulitan untuk mengeluarkan pendapat atau emosinya. Hal ini karena ia tak mau jujur terhadap keinginan dan dirinya. Menurutnya, dengan menolak keinginan diri dan bagian dirinya yang lain, ia akan merasa bahagia. Tapi nyatanya tidak demikian. Pada bagian akhir komik, ada kejadian dimana kekuatan Mob lepas kendali karena bagian dirinya yang lain memberontak. Mengapa bisa demikian? Sebab bagian dirinya yang lain tersebut sudah tidak tahan harus terus-menerus menutup diri dan selalu mengiyakan keinginan orang lain tanpa memperdulikan keinginan sendiri. 

Lagi, fenomena seperti di atas dapat ditemukan di kehidupan nyata. Adapun mengapa saya berkata demikian sebab saya pun pernah dan sedang mengalaminya. Saya malu akan bagian diri saya yang lain dan menolak kehadirannya. Saya tak berani untuk mengemukakan keinginan diri atau pendapat karena takut akan melukai orang lain. Alhasil ada beberapa waktu emosi saya lepas kendali, entah itu dalam bentuk gerutuan atau kesedihan yang membuat saya tak ingin melakukan apa-apa.

Dalam cerita, ketika Mob sedang di luar kendali, “guru”nya akan datang untuk menenangkan dan coba memberi pencerahan. Adapun pencerahan yang diberikan sifatnya tidak berbentuk final dalam artian apapun nasihat yang diberikan, hasil akhir tetap ditentukan oleh Mob sendiri. Saya rasa hal yang seperti itu juga relevan dengan kehidupan. Ketika diri sedang tidak baik-baik saja, hal yang amat dibutuhkan adalah kehadiran orang lain untuk menyadarkan kita. Sebab biasanya ketika sedang begitu dibalut emosi, kita sulit untuk menyelamatkan diri tanpa bantuan orang lain.

Sebenarnya, masih banyak interpretasi yang bisa didapatkan dari komik tersebut, misalnya tentang arogansi diri atau fanatisme terhadap sesuatu. Hanya saja, mengapa  saya lebih fokus terhadap interpretasi mengenai emosi dan keinginan, sebab dua hal tersebut sedang mengena dalam fase hidup saya.

Akhir kata, Mob Psycho 100 adalah komik yang menyenangkan untuk dibaca. Terlebih lagi kalau anda menyukai cerita sederhana yang dibumbui oleh humor aneh tapi tetap memiliki pesan yang kuat untuk disampaikan. Pokoknya, recommended!

Bertanya adalah Kunci!

Pendidikan itu layaknya pintu. Ketika ia dibuka, ia memberi pembukanya berbagai kesempatan. Entah itu berupa kesempatan untuk mengalami sesuatu atau menjadi sesuatu. Tentu saja pintu tersebut tidak langsung terbuka dan salah satu upaya sederhana membukanya ialah dengan bertanya.

Dari SMA hingga kuliah sekarang, saya melihat bertanya menjadi hal yang sifatnya sebagai pelengkap alih-alih inti pembelajaran. Ketika bertanya sifatnya demikian, dampak yang muncul ada dua. Pertama, tidak ada pertanyaan yang muncul karena toh tanpa pertanyaan pembelajaran tetap berlanjut. Kedua, bertanya tapi ala kadarnya. Misal dalam konteks presentasi, seringkali audiens diminta untuk bertanya kepada pemateri tentang presentasinya. Karena audiens bertanya karena diminta, alhasil pertanyaan yang muncul terkadang tidak berbobot, seperti mempertanyakan hal yang sudah jelas disampaikan. Seharusnya, yang ditanyakan kan, hal-hal yang tidak dimengerti atau hal-hal yang belum pasti sehingga memunculkan alur diskusi yang tentu saja dapat memperdalam materi.

Lantas, apa yang membuat aktivitas bertanya sifatnya menjadi demikian? Kalau dari pengamatan saya yang ala kadar dan tentu saja hanya melihat apa yang tersurat dan bukan yang tersirat, terdapat dua faktor. Materi yang disampaikan tidak menarik bagi audiens sehingga dari awal tidak muncul minat bertanya. Ketika materi yang ada memang sesuai dengan audiens atau setidaknya menarik, pertanyaan yang esensial dapat muncul. Hal ini karena pertanyaan yang diajukan, berasal dari keingintahuan. Bukan atas dasar permintaan semata.

Selain faktor kemenarikan materi, faktor kepercayaan diri audiens juga bermain. Ketika sesi pertanyaan presentasi atau kelas misalnya, jika ingin bertanya maka audiens harus mengangkat tangan dan menyuarakan pertanyaannya. Nah, proses tersebut terkadang menjadi penghalang bagi penanya, utamanya mereka yang masih malu-malu. Entah malu karena takut dianggap bodoh atau takut pertanyaannya tidak cukup layak untuk ditanyakan.

Faktor permasalahannya ada, kini kita perlu upaya mengatasinya. Menurut saya, langkah mengatasinya dapat dibagi melalui sudut pandang audiens dan pemateri. Untuk audiens, mereka harus tahu betul apa yang disuka serta ingin dipelajari dan coba sedikit demi sedikit untuk berani menyuarakan pertanyaannya. Untuk pemateri, mereka harus bisa tak sekadar menyampaikan materi tapi juga memupuk rasa penasaran audiensnya.

Pertanyaan adalah salah satu kunci pendidikan, maka dari itu, mari kita coba untuk melakukannya. Memunculkan pertanyaan tentu saja perlu didasari keingintahuan dan bukan atas dasar permintaan, agar pertanyaan yang muncul bukan ala kadar tapi esensial. “Tapi memunculkan pertanyaan yang esensial kan susah?”, mungkin ada yang bertanya. Ya kalau susah, mulai dari yang sederhana saja, sesederhana format 5W1H. Masih susah juga bertanya? Sini saya kasih contoh: “mengapa menulis di malam hari lebih nikmat dibanding di pagi hari?”

Saya Pengen Tidak Tahu: Sebuah Antithesis Untuk Media Sosial

Melihat diri yang belakangan ini begitu kecanduan media sosial membuat saya memutuskan untuk digital detox. Alasannya karena kecanduan media sosial amat membuang waktu yang berharga dan juga mempengaruhi kesehatan mental saya secara tidak langsung.

Bagi saya usaha melakukan detox ini amat sulit. Hal ini karena tingkat kecanduan yang bisa dibilang sudah cukup tinggi. Dalam hitungan menit misalnya, saya bisa sampai 5-10 kali membuka smartphone. Padahal tidak ada notifikasi media sosial penting yang muncul di hp saya.

Untuk digital detox, saya mencoba dua cara yaitu upaya teknikal dan perubahan mindset. Upaya teknikal caranya ialah dengan mengunduh aplikasi khusus digital detox. Aplikasi tersebut dapat mengunci hp atau aplikasi tertentu dalam kurun waktu tertentu sehingga penggunanya tidak dapat membukanya. Jadi misalkan saya pilih Instagram untuk dikunci, maka saya tidak akan dapat membukanya hingga batas waktu tertentu. Namun sayangnya, setelah beberapa kali percobaan, cara tersebut kurang efektif. Sebab ketika aplikasi yang dikunci telah dibuka, saya secara impulsif akan membuka media sosial tersebut dan berselancar di dalamnya tanpa peduli waktu.

Karena upaya teknikal yang tidak efektif, alhasil saya mencoba upaya perubahan mindset. Caranya ialah dengan menanamkan mindset baru, yang awalnya “saya harus tahu sekarang juga” menjadi “saya tidak ingin tahu apa yang sedang terjadi”. Mindset tersebut mengondisikan otak saya agar tidak ingin tahu apapun yang berada di media sosial, entah itu status teman, berita, atau pun konten viral. Hasilnya? Cukup efektif, saya jadi jarang buka media sosial dan bahkan merasa bersalah ketika secara impulsif membuka media sosial.

Upaya digital detox saya ini tentu saja belum berhenti karena saya masih secara impulsif atau tiba-tiba buka media sosial dan menghabiskan waktu yang lama di dalamnya. Harapannya sih digital detox ini dapat membawa saya kembali ke keadaan ketika SD dan SMP, dimana saya tidak terikat oleh media sosial dan tidak dibanjiri informasi nirfaedah yang ada di dalamnya.

Jika pembaca merasa jenuh karena terlalu lama bermedia sosial, upaya digital detox ini bisa Anda coba. Kalau merasa sulit, coba dengan yang paling mudah dahulu. Misalnya, tidak buka medsos di hp selama satu jam, haha.

Pengorbanan, Langkah Awal Pencapaian

‘Everybody wants to change the world, but no one wants to die”, begitulah sepenggal lirik dari lagu Na Na Na – My Chemical Romance. Mendengar lagu tersebut di kala SMP membuat saya bersemangat. Namun saat mendengar lagu tersebut di kala kuliah sekarang, selain membuat bersemangat, juga membuat saya sadar.

Penggalan lirik tadi, bagi saya, memiliki arti bahwa untuk menggapai sesuatu harus ada yang dikorbankan. Melihat keadaan diri yang sekarang, saya merasa amat bodoh dan naif. Bagaimana saya hendak merubah diri/keadaan, apabila saya tidak mengorbankan/melepaskan hal sesuatu pula?

Untuk setiap perubahan, terdapat harga yang mesti dibayar. Itu sudah hukumnya.

Beberapa hari ke belakang saya mulai menyadari hukum tersebut dan coba menerapkannya secara riil ke dalam kehidupan. Saya memiliki dua buah keinginan yaitu lebih banyak baca dan menulis. Saya pun sadar bila tidak mengorbankan sesuatu, apa yang saya inginkan tersebut tidaklah mungkin untuk dicapai.

Saya memutuskan untuk mengorbankan waktu penggunaan media sosial. Mengapa hal tersebut yang dipilih? Sebab media sosial amat menyita waktu saya dan akhir-akhir ini amat mempengaruhi keadaan psikis. Alhasil semenjak dua hari yang lalu saya mulai tinggalkan medsos dan berfokus pada pencapaian keinginan. Hasilnya? Saya membaca lebih banyak dan ide-ide mentah tulisan muncul dan siap untuk diolah.

Mengakhiri tulisan, teringat sebuah quote yang berbunyi, “what we give is what we get”

Menjadi Strategis Dengan Teori dan Praktik

Hari ini berkesempatan untuk hadir ke sebuah seminar yang diadakan oleh BEM Fakultas Psikologi di kampus saya. Tema yang diangkat dalam seminar tersebut ialah bagaimana membuat strategi untuk isu-isu strategis. Tentu saja tema adalah salah satu faktor yang menarik saya datang ke sana. Faktor lainnya ialah karena saya ingin melihat bagaimana kemahasiswaan rumpun saintek membuat dan mengkonsepkan acara.

Seminar ini dibagi dua, yaitu sesi teoritis dan praktik. Sesi teoritis dibawakan oleh dosen ilmu pemerintahan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik kampus saya. Sedangkan untuk sesi praktik, dibawakan oleh alumni kampus yang memang terbiasa berpikir dan bertindak strategis.

Di sesi teoritis, para peserta diberi ceramah mengenai definisi, ciri-ciri, serta cara menangani isu-isu strategis. Oh iya, jika belum tahu, isu strategis secara singkatnya adalah isu yang memiliki dampak kepada orang banyak dan biasanya belum terjawab sehingga dibutuhkan yang namanya solusi. Jadi isu-isu strategis tidak melulu erat kaitannya dengan permasalahan negara, meskipun memang masalah negara pun termasuk ke dalamnya.

Lebih lanjut mengenai cara penanganan isu strategis, sang dosen memberikan dua buah metode, yaitu metode pembobotan dan analisis SWOT. Metode pembobotan dapat dikatakan secara mudahnya adalah memberi prioritas terhadap berbagai permasalahan yang ada lalu menanganinya berurutan sesuai dengan bobot yang paling tinggi, sebab bobot paling tinggi adalah masalah yang amat penting. Adapun mengetahui cara pembobotannya dapat dengan cara bertanya dengan pakar-pakar terkait isu strategisnya. Lalu ada analisis SWOT yang mana, ya, analisis SWOT, bisa dicek di google untuk info lebih lanjut.

Seusai dapat teori-teorinya, seminar dilanjut dengan sesi praktik yang dipandu oleh seorang alumni kampus. Untuk praktiknya, kakak alumni ini membagi kami ke dalam beberapa pasangan lalu menginstruksikan pasangan-pasangan ini untuk menuliskan berbagai masalah kampus. Setelah menulis dan mendiskusikan dengan pasangannya, kedua pasangan tersebut bergabung dengan pasangan lain dan melakukan hal yang serupa tapi dengan tambahan memilih isu yang menurut gabungan pasangan tersebut penting. Pokoknya kegiatan ini berlanjut hingga akhirnya seluruh peserta seminar saling berdiskusi menentukan isu yang dianggap paling penting dan masing-masing peserta memberikan upaya solusi terhadap isu-isu tersebut. Kalau mau digambarkan, sesi praktik ini seperti piramida dengan ujungnya adalah menemukan solusi bagi isu-isu.

Banyak hal yang saya dapat, tak hanya tentang teori maupun praktik, tapi juga insight-insight mengenai kehidupan. Seminar ini menyadarkan saya bahwa saya masih kurang berani untuk berpendapat. Ketika ada kesempatan untuk berbicara, entah mengapa nyali saya seringkali menciut, padahal kan tidak ada yang namanya pendapat yang salah. Selain itu, saya pun menyadari bahwa masalah untuk diri sendiri belum tentu masalah untuk orang lain. Munculnya pola pikir tersebut mengingatkan saya untuk berusaha dingin ketika menghadapi masalah dan coba untuk memahami masalah orang lain dari sudut pandangnya, bukan dari sudut pandang diri sendiri.

Seminar selesai dengan diakhiri oleh kuis dan foto bersama. Hujan begitu besar ketika hendak pulang ke kosan, alhasil saya ke masjid dulu untuk sholat dan berteduh. Saat berteduh di dalam masjid, karena hawa dingin yang menyejukkan, saya pun tertidur di masjid untuk beberapa saat sembari ditemani kucing masjid yang mondar-mandir…

Presentasi dan Rasa Bersalah

Hari Selasa lalu saya dapat kesempatan untuk maju presentasi. Well, tidak saya sendiri sih, sebab ada teman-teman sekelompok juga. Yang kami bawakan ialah materi tentang personal selling. Meski terbilang lancar, tapi dari perspektif diri, saya merasa harusnya presentasi dapat dibawakan lebih baik, tidak ada kekurangan di dalamnya. Tapi, ya, hal tersebut tidak terjadi.

Kekurangan dimulai dari segi teknis di mana file presentasi yang hendak kami bawakan tidak dapat dibuka. Kami membuang banyak waktu yang mana seharusnya dapat digunakan untuk kelompok lain tampil. Alhasil kami pun mempersilahkan kelompok lain tampil duluan sembari kami mengunduh file presentasinya.

Kekurangan lain, yang fokus utamanya ada pada saya sendiri, ialah tentang pembawaan materi yang kurang maksimal. Bicara saya tersendat-sendat, membuat apa yang saya sampaikan terasa kurang runut. Penyebabnya tentu saja karena kurang persiapan ulang yang kurang sebab minggu kemarin sebenarnya saya sudah cukup siap. Namun karena kelas minggu lalu dibatalkan presentasi diundur ke hari ini, yang mana saya jadi agak lupa materi yang akan disampaikan. Tapi ya, itu hanya pembenaran diri saya, karena seharusnya jika memang professional, kapan pun harus maju harus siap sedia.

Sebagaimana ketika melakukan kesalahan, rasa bersalah datang menghampiri. Saya merasa bersalah karena telah mengecewakan dosen dan teman-teman yang ingin belajar dari presentasi ini. Rasa bersalah tersebut makin menjadi-jadi ketika pikiran, “seharusnya saya mampu berbuat lebih” terus terngiang di kepala.

Tapi rasanya saya juga bodoh apabila terlalu larut dalam rasa bersalah ini. Karena, pertama, hal tersebut adalah masa lalu yang mana tidak dapat diubah lagi. Kedua, apabila saya masih memikirkannya, berarti saya gagal melihat sudut pandang lainnya bahwa kekurangan ini adalah kesempatan belajar untuk terus memperbaiki kekurangan-kekurangan presentasi yang dimiliki.

Hikmah telah saya catat dan harapannya mampu dipraktikkan pada kesempatan presentasi berikutnya. Tak boleh lagi terkendala teknis, segala kemungkinan harus dipersiapkan. Tak boleh lagi berdalih lupa materi, karena langkah awal untuk menjadi professional adalah untuk siap kapanpun, dalam kondisi apapun.


Senang rasanya dapat menulis kembali di platform ini setelah sekian lama ditinggal. Tidak ngeblog tentu bukan berarti tidak menulis. Dalam keseharian saya tetap coba menulis buku harian yang isinya terkadang refleksi atau puisi yang membuat saya cukup sadar akan apa yang terjadi di sekitar saya.

Ngomong-ngomong tentang puisi, buat yang baru baca blog ini, saya sudah menulis beberapa haiku (puisi Jepang) yang mungkin dapat menarik perhatian. Dan seperti biasanya, semoga saya dapat menulis lebih banyak haiku lagi ke depannya (well, kalau tidak ngilang dari blog lagi, haha)

Selamat malam!